Gagal
Oleh: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Kita tidak bisa menutup mata mengenai banyaknya kegagalan yang terjadi
di tengah kita. Mulai dari kekalahan dalam olahraga sepak bola,
bulutangkis, sampai kinerja lembaga yang hasil kerjanya belum kunjung
bisa membuktikan kesuksesannya. Ada juga kegagalan yang menyebabkan
tidak hanya kerugian finansial yang besar, tapi juga hilangnya nyawa,
seperti jembatan ambruk. Hal yang lebih berbahaya lagi malah bila dampak
kegagalan sampai tidak bisa dihitung kerugiannya secara finansial, tapi
kerusakannya begitu nyata, seperti suburnya korupsi sampai ke generasi
yang lebih muda, ataupun lunturnya pendidikan moral dan budi pekerti.
Dengan gencarnya media sosial sekarang ini, caci maki bila kegagalan
terjadi seringkali membuat kita merinding. Terlepas dari besar-kecilnya
kerugian yang ditimbulkan, komentar-komentar yang "sadis" segera saja
menohok pelaku yang pada kenyataannya memang berbuat salah atau bodoh.
Di perusahaan, bahkan dalam keluarga pun hal ini terjadi. Ada orang tua
yang langsung menghukum anak yang mendapat angka buruk di ujian, ulangan
atau pe-ernya. Ada juga atasan yang segera mengganjar kesalahan atau
kelalaian dengan cercaan, sehingga pelaku seolah-olah tidak diberi
nafas, baik untuk memberi keterangan atau membela diri.
Beratnya hukuman terhadap kegagalan menyebabkan kegagalan bisa dianggap
sesuatu yang alergik, tidak boleh terjadi, bahkan tidak boleh ada. Tak
heran bila kita melihat tumbuh suburnya sikap defensif. Begitu ada
gejala ke arah kegagalan, individu sudah pasang kuda-kuda, siap dengan
telunjuknya untuk menuding orang lain. Bisa juga, ia memutar otak untuk
berteori panjang lebar, mengeluarkan segala jurus analisa, yang penting,
dirinya terlepas dari sorotan, apalagi tanggung jawab untuk menanggung
akibatnya. Kebiasaan untuk menghindari kegagalan ini selain menimbulkan
stress, juga menghilangkan separuh kesempatan untuk belajar. Padahal
kalau dipikir-pikir, mungkinkah kita belajar dari kesuksesan saja? Bila
kita sedang mengalami sebuah sukses besar, bukankah kita cenderung tidak
belajar dari situasi tersebut? Kita jarang sekali menganalisa "mengapa
sukses ini terjadi?", "Faktor apa yang dominan?". "Apa tindakan kita
ambil sehingga kesuksesan bisa berulang?", Atau, apakah ini hanya
keberuntungan saja? Sementara, bila kegagalan terjadi, dari orang awam
sampai ahlinya, akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menganalisa
penyebabnya. Individu yang bijak akan langsung memikirkan solusi dan
tindakan perbaikan. Jadi, mengapa kita begitu takut gagal?
Dekati Kegagalan
Pesta-pesta kesuksesan di perusahaan sudah lazim kita alami. Sebaliknya,
pernahkah kita menelaah bagaimana perusahaan menyikapi kegagalan?
Microsoft, perusahaan yang super sukses, kerap "merayakan" kegagalan,
bahkan menyebut beberapa kegagalannya sebagai "glorious failures".
Mereka sangat jelas memahami sumber kegagalannya dan menjadikan
kegagalan sebagai batu loncatan untuk melakukan "breakthrough".
Sebenarnya, bahkan di parlemen sendiri kita lihat ada acara "hearing"
atau "dengar pendapat" yang dimaksudkan untuk "mendengar" apa,
bagaimana, mengapa suatu kejadian terjadi dan apa solusinya. Jadi,
slogan `belajar dari kegagalan' benar-benar harus kita pelajari kembali.
Istilah "success by failure" memang ada dan merupakan kenyataan.
Sebuah perusahaan, bahkan berani membuat "Hall of failure" dan bukan
"hall of fame" seperti biasanya. Latar belakang pemikiran perusahaan
tersebut sangat jelas. Perusahaan mengupayakan agar para karyawan
meyakini bahwa kegagalan adalah bagian dari upaya perusahaan yang
menginginkan karyawan mau mengambil risiko dan tidak dihantui ketakutan
akan kegagalan. Perusahaan tersebut bahkan menginstrusikan untuk
mencantumkan cerita kegagalan dan apa yang dipelajari dari kegagalan
tersebut, dilengkapi dengan tandatangan yang bersangkutan. Ada individu
yang menulis di "hall of failure" dengan mengatakan bahwa setelah 7
tahun berusaha, ia berhenti belajar bermain biola. "Lesson learned" yang
ia sampaikan adalah "saya tidak akan peduli dengan pendapat orang bahwa
saya tidak bisa main musik". Pernyataan ini, meskipun nampaknya tidak
relevan dengan proses bisnis perusahaan, namun sebenarnya menanamkan
keberanian pada mental individu untuk siap menghadapi kesulitan dalam
situasi apapun. Pimpinan perusahaan bahkan mengatakan "We don't just
encourage risk taking at our offices: we demand failure". Kemajuan,
inovasi dan sukses memang sesungguhnya lebih mudah dipelajari dari
kesalahan-kesalahan di sana sini. Hal seperti ini bermanfaat bila saja
pendekatan kita terhadap kesalahan memang positif, mendalam dan
ditekuni.
Budaya "strongly - weak!"
Mengembangkan budaya yang sadar akan kelemahan dan menjadikan `lesson
learnt" sebagai kekuatan, bisa jelas kita lihat pada olahragawan. Jarang
sekali juara-juara olah raga tidak mempelajari kelemahannya. Individu-
individu yang demikian, tumbuh menjadi orang yang lebih membumi, kritis,
fair, dan jujur, serta bisa memandang bahwa realitas itu menyakitkan,
namun penyembuhannya akan membawa ke kesuksesan. Kegagalan seharusnya
tidak menjadi sesuatu yang kita ratapi, namun jalan bagi kita untuk juga
memahami di mana letak kekuatan kita serta bagaimana kegagalan bisa
menjadi momentum untuk membawa perbaikan. Dalam suatu masyarakat, di
mana keragaman individu tidak mudah dikontrol, kita memang perlu
pemimpin yang mencontohkan sikap belajar dari kegagalan, bahkan membawa
kegagalan sebagai sarana untuk mengembangkan `trust'. Kita bisa belajar
dari pemimpin negara Jepang dan Cina ketika menghadapi bencana. Rakyat
langsung mempunyai respek tinggi terhadapi cara pimpinan menghadapi
krisis. Saat menghadapi wawancara, kegagalan yang pernah kita alami pun
sebetulnya tidak melulu harus disembunyikan. Bila kita bisa membahas
bagaimana sikap dan "action" kita untuk `bouncing back', hal ini malah
bisa menjadi nilai tambah kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar