Selasa, 30 Juli 2013

Kurang Tidur? Mesti Baca !!!

Kurang Tidur? Anda Mesti Baca!
Oleh: Anthony Dio Martin

Di bulan Oktober 2009, dunia, khususnya di India, terkejut. Seorang pebisnis terkemuka CEO (Chief Operating Officer) perusahaan SAP di India, Ranjan Das, meninggal dunia dalam usia yang sangat muda 42 tahun. Soal meninggal, mungkin itu sudah biasa dan mungkin saja memang takdirnya. Tetapi menariknya, penyelidikan menunjukkan bahwa meninggalnya Ranjan Das ada hubungannya dengan soal tidur. Bahkan, dalam acaranya TV terkenal India yakni "Boss Day's Out" yang masih bisa diakses hingga sekarang, Ranjan Das bercerita soal dirinya yang merasa kurang tidur. Rata-rata, ia hanya tidur sekitar 4 hingga 5 jam sehari. Padahal, Ranjan Das memperhatikan pola makan dan juga soal olah raga rutin. Nah, seberapa pentingnya tidur, bagi fisik dan EQ (kecerdasan emosi Anda)? Mari kita simak!

Pertama, dari sisi kesehatan. Beberapa data ini diambil dari para ahli kardiologi di Singapura. Ternyata, kurangnya tidur yakni 5 jam atau kurang menyebabkan peningatan tekanan darah hingga 350% atau 500% dibandingkan dengan mereka yang tidurnya 6 jam tiap malam. Padahal, seperti kita ketahui, tingginya tekanan darah, bisa membunuh Anda! Penelitian lebih lanjut juga membuktikan bahwa orang muda (25-49 tahun) yang kurang tidur, berpeluang terkena serangan jantung. Riset lainnya juga menunjukkan bahwa mereka yang tidurnya kurang dari 5 jam, berpeluang terkena serangan jantung tiga kali lebih besar! Dan dalam sebuah publikasi tahun 2004 dikatakan bahwa semalam kekurangan tidur saja, menyebabkan beberapa zat beracun dalam tubuh meningkat drastis seperti Interleukin-6 (IL-6), Tumour Necrosis Factor-Alpha (TNF-alpha) dan C-reactive protein (cRP). Padahal, kelebihan zat inilah penyebab utama kanker, arthritis serta penyakit jantung.

Kedua, dari sisi emosi. Pada bulan Oktober 2007, Live Science mempublikasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh Matthew Walker, seorang neuroscientist dari University of California di Berkeley yang terkait dengan urusan tidur serta emosi. Apa yang dilakukan? Mereka membagi dua kelompok orang, yang tidurnya cukup serta yang tidurnya sengaja diganggu. Lantas, mereka kemudian menunjukkan pada kedua kelompok ini beberapa puluh gambar, mulai dari gambar biasa hingga gambar yang memancing emosi seperti korban serangan hiu hingga tubuh yang dimutilasi. Sementara itu, reaksi emosi mereka discan pula dengan menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Hasilnya, cukup menarik. 60% dari mereka yang kurang tidur, reaksi emosinya menjadi lebih tidak stabil dan tidak terkendali. Selain itu, bagian pre-frontal korteks yakni bagian otak yang berurusan dengan penalaran emosi, juga tidak berfungsi optimal pada mereka yang kekurangan tidur. Secara umum, kemudian disimpulkan bahwa mereka yang kekurangan tidur, cenderung lebih gampang mudah terpicu emosinya. Lagipula, mereka yang kurang tidurpun menjadi lebih sulit bergembira dan penalarannya kurang optimal lantaran bagian korteks yang mengatur emosi, bekerja lebih sulit.

Apa Pelajarannya?
Inti pembelajarannya sederhana yakni tidurlah yang cukup. Tidur yang cukup berarti 6 jam atau lebih. Dan untuk mengetahui apakah Anda tidurnya cukup atau kurang, salh satu indicator yang kuat adalah dengan menggunakan Epworth Sleepiness Scale ini. Ada 8 pertanyaan penting sebagai indicator bagi Anda. Cobalah perhatikan, apakah Anda gampang tertidur dan mengantuk pada 8 situasi ini: (1) Saat duduk dan membaca; (2) Saat nonton TV; (3) Sat duduk-duduk di rungan public (nonton film,dll); (4) Saat duduk sejam di mobil; (5) Saat duduk-duduk santai di sore hari; (6) Saat duduk dan ngobrol dengan seseorang; (7) Saat duduk tenang sendirian setelah makan siang; (8) Saat di mobil duduk sejenak menunggu sesuatu (misalkan tunggu orang atau lampu lalu lintas). Jika Anda punya 3 hal yang Anda jawab dengan kata YA, maka manurut skala ini, sudah saatnya Anda mulai harus mempertikan jam tidur Anda!

Mulai sekarang, janganlah menjadi orang yang terlalu bergembira ketika Anda bisa terus-menerus bekerja tanpa tidur ataupun tanpa istirahat sama sekali. Hasil penelitian di atas telah menunjukkan bahwa hal tersebut tidak saja berdampak buruk bagi fisik Anda tetapi juga kecerdasan emosi (EQ) Anda. Tak mengherankan, jika di dunia barat ada istilah bahwa tatkala seseorang marah-marah, maka ia dikatakan "ia tidur di sisi yang sala" (sleeping on the wrong side). Jadi, sejak dulu orang suda tahuada pengaruh tidur terhadap kualitas emosi seseorang. Dan sebenarnya tidak dibutuhkan riset ataupun penelitian canggih untuk membuktikan bahwa, kurangnya tidur Anda, tidak saja berdampak buruk bagi fisik Anda tapi juga mengganggu emosi Anda. Anda sudah sering merasakannya sendiri!

Anthony Dio Martin
Trainer, Inspirator, Penulis buku-buku Bestseller

Kamis, 06 Juni 2013

Cahaya Kehidupan

Cahaya Kehidupan
Oleh Andrie Wongso

Alkisah, Putri diterima di perguruan tinggi dan harus pindah ke luar kota. Orangtuanya membelikan sebuah rumah mungil yang sudah direnovasi—selain untuk investasi, juga untuk membantu kelancaran putri semata wayangnya yang sekarang mulai duduk di bangku kuliah. Sebagai anak tunggal, semua kebutuhan Putri disediakan oleh orangtuanya, bahkan tanpa diminta sekalipun.

Setelah pindah beberapa hari, Putri sadar, di sebelah tempat tinggalnya ada rumah yang tampak sangat sederhana, dengan tiga orang penghuni di dalamnya—seorang ibu muda dengan dua anaknya.

Suatu malam, terjadi hal yang tidak diinginkan. Lampu mati! Putri segera meraih telepon genggamnya dan menyalakan layar untuk menerangi sekitarnya. "Huuh…..apa-apaan nih! Mana mau ngerjain tugas, pakai mati lampu segala!" keluh Putri dengan perasaan jengkel.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu berulang-ulang diikuti teriakan nyaring, "Kakaaak... Kakaaak!" Putri membalas berteriak dari dalam, "Hai… Siapaaaa?"
"Saya. Kak. Anak sebelah rumah. Kakak punya lilin..?"

Sambil berjalan menghampiri pintu, Putri sempat berpikir, "Anak sebelah tuh, jangan-jangan mau minta-minta. Nanti jadi kebiasaan minta deh." Jadi segera dijawab, "Tidak punyaaa!"
"Tolong buka pintunya Kak," kata anak itu mengulang, bertepatan ketika si Putri telah di ambang pintu, dan membukanya.

"Kak, saya dan mama khawatir.. Di sini kan sering mati lampu. Kakak orang baru, pasti belum tersedia lilin. Ini Kak, mama menyuruh saya untuk membawakan lilin untuk kakak," seraya tangan mungilnya mengangsurkan 2 batang lilin ke arah Putri.

Putri sejenak terpana, dia segera jongkok dan memeluk tubuh mungil di hadapannya sambil mengeluarkan suara tercekat. "Terima kasih, adik kecil. Tolong sampaikan ke mamamu ya, terima kasih.."

Putri malu pada dirinya sendiri yang telah berpikiran jelek dan tidak menyangka bahwa tetangganya yang tampak begitu sederhana justru menunjukkan kebesaran jiwa dengan mengkhawatirkan dirinya dan bahkan memberi lilin, seolah cahaya kehidupan. Bukan seperti pemikirannya, bahwa si miskin yang datang mengetuk pintu pasti bertujuan untuk mengganggu dan meminta tolong atau menyusahkan kita saja.

Perasaan tidak nyaman dan prasangka buruk sering kali menguasai saat teman atau kerabat yang tidak mampu mengetuk pintu rumah kita atau menghubungi kita. Jangan-jangan.. cuma mau minta tolong. Sesungguhnya, jika ada teman atau kerabat yang sedang kesusahan, bukankah kita sedang diberi kesempatan untuk berbuat baik? Seperti hukum alam mengajarkan filosofi "tabur-tuai". Tanpa menabur kebaikan, bagaimana mungkin kita berharap bisa menuai kebaikan di masa depan? Mari kita melatih dan membiasakan jika ada kesempatan membantu orang lain. Tentu merupakan suatu kebahagiaan jika ada kesempatan untuk meringankan beban orang lain.

Rabu, 29 Mei 2013

Financial Engineering Tukang Ojek

Financial Engineering Tukang Ojek
Oleh: Her Suharyanto

KALI INI saya sekadar ingin berbagi cerita mengenai keterkejutan saya mengenai bagaimana seorang tukang ojek melakukan rekayasa keuangan (financial engineering). Sebagai catatan awal, saya tidak ingin memberikan penilaian (judgment) moral apapun atas orang yang saya ceritakan berikut ini. Cerita ini saya sodorkan sekadar untuk berbagi bahwa mereka yang secara umum dipandang dengan sebelah mata sekalipun ternyata memiliki kecerdasan keuangan sekelas dengan mereka yang namanya menghiasi halaman-halaman koran ekonomi.

Sekitar November tahun silam saya memesan tukang ojek langganan, Pak Nikmat namanya, via telepon. Saya harus berangkat ke studio kerja (yang masih berada di kompleks yang sama dengan tempat tinggal saya) dengan ojek, tidak dengan sepeda seperti biasanya, karena harus membawa buku dalam jumlah yang cukup banyak.

Kurang dari lima menit setelah ditelepon Pak Nikmat datang, kali ini dengan sepeda motor baru merek Jepang buatan dalam negeri. "Wah, baru nih Pak, motornya…" saya membuka pembicaraan.

"Ah, cuma barang gadean pak…" dia menjawab dengan mimic biasanya, malu-malu.

"Loh, barang baru ada yang gadein?" saya sampaikan rasa penasaran saya.

"Orangnya memang seneng begitu, Pak."

"Maksudnya?"

"Kredit motor, terus digadein…"

Saya penasaran. Jadi setelah nangkring di sadel bagian belakang motornya saya terus mencoba mengorek apa yang dimaksud dengan "orangnya senang begitu… kredit motor terus digadein."

Dalam perjalanan ojek yang tidak terlalu lama itu saya berhasil mengorek sejumlah informasi dari Pak Nikmat, informasi yang membuat saya geleng kepala, mengagumi cara kerja orang yang disebutnya sebagai temannya itu.

"Orangnya nembak dua tingkat pak…" katanya memulai cerita. Menurut dia teman itu, sebut saja Udin Peang, mengambil kredit sepeda motor dengan "modal" uang muka Rp500.000. Setelah motor didapat, dia tidak langsung menggunakan motor itu, tetapi menggadaikannya pada Pak Nikmat seharga tiga juta rupiah. Uniknya, uang gadai ini nilainya tetap, tapi periodenya fleksibel. Sang empunya motor boleh mengambil motornya kapan saja dengan uang tiga juta rupiah. Loh, kok tanpa bunga? "Kan saya sudah pakai motor ini. Kalau dianggurin memang rugi, tapi kalau buat ngojek ya enggak pak…"

Itu tembakan tingkat satu.

Tembakan tingkat duanya adalah, dari uang gadai tiga juta itu dia mengambil yang satu juta rupiah untuk membeli dua sepeda motor lainnya. Anda tahu apa yang dilakukannya kemudian? Dua sepeda motor baru itu "dikaryakan" pada adik dan sepupunya dengan setoran harian. Menurut perhitungan Pak Nikmat, setoran dari dua sepeda motor ini cukup untuk membayar cicilan tiga sepeda motor sekaligus setiap bulan.

"Dia sendiri ngapain sekarang?"

"Dia nggak ngojek lagi Pak… katanya sih mau jualan bakso. Bakso sama bumbu jadi dia ambil dari Cileduk pakai modal yang dua juta itu…"

Saya tidak bisa bertanya lebih lanjut karena saya sudah sampai ke tempat kerja saya. Tetapi saya dibuat termangu-mangu untuk waktu yang lama. Bahkan seringkali, terutama ketika menulis artikel keuangan, saya selalu teringat pada cerita Pak Nikmat. Ada rasa penasaran ingin berkenalan dengan sang financial-engineer tersebut. Tetapi saya menunda keinginan itu karena pelajarannya sudah bisa dirumuskan: (1) ternyata modal kecil bukan masalah, (2) jangan sepelekan kecerdasan finansial "orang kecil", (3) kecerdasan finansial hanya akan efektif kalau disertai dengan keberanian dan aksi.

Bayangkan, dengan modal lima ratus ribu rupiah ada tiga sepeda motor yang produktif, ada tiga pengojek mendapat kesempatan kerja, dan ada satu warung bakso (entah berapa pun skalanya) dengan minimal satu tenaga kerja. Ck…ck…ck…

Jumat, 24 Mei 2013

Hidup Menyenangkan Dengan Syukur

Hidup Menyenangkan dengan Syukur
Oleh: Andrew Ho

"Joy is a heart full and a mind purified by gratitude. – Kebahagiaan dalam hati dan pikiran dimurnikan oleh rasa syukur." Marietta McCarty, penulis warga negara USA

Kesibukan dan tekanan hidup seringkali membuat kita lupa bersyukur, yaitu berterima kasih atas segala karunia Tuhan YME. Sesunguhnya ada banyak hal berupa kemudahan dan anugrah luar biasa dari sang Maha Pencipta yang kita terima setiap hari. Bila kita banyak bersyukur atas semua anugrah tersebut ini akan memberi berjuta manfaat dan menjadikan hidup ini sangat menyenangkan.

Manfaat syukur akan kembali kepada orang yang bersyukur, dan salah satunya adalah menjadikan hati ini lebih tentram. Sebab bersyukur sama dengan mengingat kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh Tuhan. Orang yang paling bahagia adalah orang yang pandai bersyukur.

Dalam hal ini saya mengutip rilis dari sebuah media mengenai Michael Inzlicht, dari University of Toronto, yang telah melakukan beberapa penelitian bahwa mengingat Tuhan itu akan memberikan rasa tentram. "Memikirkan tentang hal yang religius akan membuat kita lebih tenang ketika kita dihadapkan dengan hal yang membuat stres seperti melakukan kesalahan," katanya.

Orang yang selalu bersyukur adalah orang yang merasa dalam curahan karunia dan kasih sayang-Nya. Karenanya, orang yang selalu bersyukur itu selalu dapat berpikir bahwa segala sesuatu pasti memiliki manfaat positif di kemudian hari. Kalaupun ditimpa cobaan atau memiliki kekurangan, rasa syukur itu akan membantu dirinya kembali memperoleh semangat untuk menghasilkan karya yang inspiratif, mengalahkan tantangan, sukses, berprestasi, dan mencapai segala impian.

Bersyukur atas apapun realita hidup yang kita terima ini dapat mengatasi perasaan putus asa. Ketidaksempurnaan, kehilangan atau kerugian apapun memang dapat mengecilkan hati, kecewa, dan putus asa. Namun dengan senantiasa mensyukuri karunia apapun yang kita terima, ini akan membantu kita lepas dari perasaan putus asa.

"The seeds of discouragement cannot take root in a grateful heart. – Benih-benih keputusasaan tak akan dapat berakar di hati yang penuh rasa syukur," kata oel Olsteen, penulis buku Living Your Best Life Now.

Dalam hidup ini kita menerima banyak sekali karunia, berupa sehat, sukses, pintar, anggota tubuh, dan lain sebagainya. Rasa syukur itu akan membantu kita untuk menghargai apapun yang kita miliki. Dengan syukur segala sesuatu menjadi penuh berkah dan manfaat.

Bersyukur atau berterima kasih kepada Tuhan atas segala karunia-Nya merupakan komponen kunci untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan. Kemampuan tiap orang untuk bersyukur dapat dikembangkan dari waktu ke waktu. Seperti kemampuan lainnya, kemampuan untuk selalu bersyukur berkembang jika dilatih dan dibiasakan terus menerus.

Sebuah cara yang dapat Anda gunakan untuk meningkatkan rasa syukur adalah menuliskan atau mengingat beberapa hal yang Anda syukuri setiap hari. Jurnal rasa syukur ini merupakan cara yang baik untuk memulai rasa syukur yang lebih besar dalam hidup Anda. Contoh hal kecil namun patut disyukuri adalah menikmati cuaca yang baik sehingga bisa jalan-jalan atau beraktifitas dengan lancar, tidak kesulitan mendapatkan makanan dan minuman, tidak kesulitan bernafas dan lain sebagainya. Jika terus dikumpulkan, suatu saat kita akan takjub karena demikian besar karunia Sang Pencipta yang telah kita terima dan nikmati.

Keyakinan dan bekerja sebaik mungkin merupakan bentuk rasa syukur atas karunia Tuhan YME. Selain itu, wujudkan rasa syukur dengan berdo'a dan beribadah. Rasa syukur juga dapat dilakukan dengan berbagi kepada orang lain, berupa ilmu, harta, kemampuan dan lain sebagainya.

Upayakan untuk menghiasi pikiran dan sikap dengan rasa syukur kapanpun dan dimanapun. Hal itu dapat mempengaruhi sikap mental menjadi lebih positif. Dengan begitu Anda perlahan-lahan mulai menarik hal-hal positif ke dalam kehidupan Anda.

Dibalik segala sesuatu yang kita keluhkan pasti ada satu hal yang dapat kita syukuri. Bersyukurlah karena pada akhirnya Anda akan dapat melihat lebih banyak hal positif di dalam diri Anda. Beberapa kalimat inspiratif yang saya kutip dari sebuah media online berikut ini mudah-mudahan dapat senantiasa mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur.

• Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar – Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
• Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu – Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
• Sebelum engkau mengeluh tentang pacar, suami atau isterimu – Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
• Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat dipanggil Tuhan.
• Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
• Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai – Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
• Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh – Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
• Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu – Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
• Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain – Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
• Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu – Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini. Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah dengan baik dan penuh rasa syukur.

* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku bestseller.

Kamis, 23 Mei 2013

Otak dan Perilaku

Otak dan Perilaku
Oleh: Syahril Syam

Selama ini, para ahli ilmu kejiwaan selalu ber-asumsi bahwa perilaku kita selalu ditentukan oleh pengaruh lingkungan. Adalah mashab behaviorisme yang pertama kali meng-klaim hal ini. Dan mashab yang lahir di negeri Paman Sam ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, Bahkan teori pendidikan banyak mengadopsi ajaran dari mashab ini. Salah satu tokoh utamanya, John Watson, bahkan pernah sesumbar bahwa ia bisa membentuk perilaku anak sedemikian rupa sesuai dengan keinginannya, cukup dengan mengubah-ngubah stimulus yang diberikan. Behaviorisme tidak peduli apakah Anda jahat atau baik, rasional atau emosional; menurut mereka, perilaku Anda bisa diubah dengan hanya mengubah lingkungan saja.

Bahkan Watson dan rekannya pernah melakukan sebuah eksperimen yang "sedikit gila", hanya untuk membuktikan teorinya. Eksperimen ini bermula pada seorang anak kecil, dan diberikan seekor tikus putih kesayangannya. Watson menginginkan suatu perilaku rasa takut muncul pada anak tersebut. Dengan menciptakan suatu kondisi tertentu, diharapkan rasa takut itu muncul pada anak kecil tersebut. Saat Albert, nama anak kecil itu, mulai memegang tikus putih kesayangannya, Albert kemudian diberikan sebuah pukulan keras dan menyakitkan. Saat Albert ingin memegang tikus itu kembali, pukulan yang lebih keras melayang padanya. Akhirnya tercipta suatu kondisi stimuli yang diharapkan, yaitu munculnya rasa takut Albert terhadap tikus putih itu. Jangankan memegang tikus putih, saat melihat tikus putih, Albert berlari ketakutan.

Itulah suatu eksperimen penciptaan perilaku dengan menciptakan suatu kondisi stimulus tertentu. Walau mashab ini mendapat banyak kritikan dari mashab psikologi selanjutnya, satu hal umum yang masih tetap berlaku adalah bahwa perilaku kita senantiasa ditentukan oleh kejadian masa lalu, adanya tekanan tertentu, dan berbagai sebab-sebab psikologis lainnya.

Keyakinan ini terus bertahan hingga menjelang tahun 2000. Mari kita lihat kisah Andrew, seorang anak yang berusia 9 tahun. Suatu hari Andrew mendatangi klinik Dr. Amen, seorang pakar dan peneliti hubungan antara otak dan perilaku, dengan kasus kepribadian yang berubah. Dulu Andrew adalah anak yang periang dan aktif. Saat berkunjung ke klinik Dr. Amen, ia nampak tertekan, agresif, dan pernah melontarkan ancaman bunuh diri dan akan membunuh orang lain di hadapan ibunya. Andrew pernah membuat gambar tentang dirinya yang tergantung di sebuah pohon, dan gambar lain tentang dirinya yang lagi menembak anak-anak. Andrew pernah menyerang seorang anak perempuan tanpa alasan.

Dalam keluarga Andrew, tidak ditemukan adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa serius. Orang tua Andrew pun adalah orang tua yang penuh kasih, peduli, dan ramah terhadap Andrew. Dr. Amen kala itu mengalami banyak kritikan dari para koleganya tentang bidang baru yang dirintisnya ini. Para ahli jiwa lainnya mengkrtitik Amen dengan kritikan pedas, "Maksud Anda, Anda bisa melihat penyakit jiwa?" Para peng-kritik penelitian Amen mengungkapkan bahwa adalah mustahil memahami perilaku dengan memerhatikan pola otak.
Namun kisah Andrew lain. Mari kita lanjutkan kisahnya.Saat mengingat kritikan tersebut, Dr. Amen sempat menduga-duga masalah Andrew ini dengan dugaan ala psikiater atau psikolog. Jangan-jangan Andrew ini cemburu karena ia hanya anak kedua, dan memiliki seorang kakak yang "sempurna". Mungkin saja ada kekerasan yang pernah dilakukan oleh orang tua Andrew. Dan berbagai dugaan sebab psikologis lainnya. Namun ada satu hal yang menyadarkan lamunan sesaat Dr. Amen, yaitu bahwa secara normal, mustahil seorang anak berusia 9 tahun sudah memiliki pikiran ingin bunuh diri dan ingin membunuh orang lain, betapa pun beratnya beban psikologis untuk anak berusia 9 tahun.

Dr. Amen akhirnya melanjutkan risetnya terhadap Andrew. Dengan menggunakan SPECT (alat pencitraan otak) dan kemudian dilanjutkan dengan MRI, ditemukan bahwa pada otak lobus temporal kiri Andrew ternyata terdapat kista seukuran bola golf. Dan berdasarkan penelitian Amen, perilaku agresif berhubungan dengan adanya masalah pada lobus temporal kiri. Namun usaha Dr. Amen selanjutnya dalam menyembuhkan Andrew menemui beberapa hambatan klasik. Saat Andrew akan dirujuk ke dokter ahli bedah, para dokter ini selalu berkata bahwa perilaku agresif Andrew tidak berhubungan samasekali dengan kista di otaknya. Dan para dokter ini tidak menyarankan operasi sebelum tampak "gejala yang nyata", yaitu berupa gejala epilepsi atau mengalami gangguan bicara.

Namun Dr. Amen terus berusaha mencari dokter bedah lainnya. Akhirnya ia menemukan seorang dokter bedah anak, Jorge Lazareff, yang bersedia melakukan operasi kista pada otak Andrew. Dan ternyata Lazareff pernah melakukan operasi kista di bagian lobus temporal kiri pada 3 orang anak, dimana ke-3 anak tersebut juga sebelumnya memperlihatkan perilaku agresif.

Dan apa yang terjadi kemudian terhadap Andrew? Pasca siuman dari operasi, Andrew tersenyum kepada ibunya (sebuah senyuman yang baru lagi muncul sejak setahun terakhir). Perilaku agresif Andrew hilang, dan ia telah kembali menjadi seorang anak yang manis seperti saat usianya belum menginjak 7 tahun. Apa yang dilakukan oleh Dr. Amen ini membuktikan satu hal penting, seperti yang dikatakannya, "Sikap tidak ramah, tidak suka bekerja keras, tidak ceria, gelisah, tidak patuh atau jahat terkadang bukan karena seseorang menginginkannya, melainkan karena ada sesuatu yang salah dengan otak. Sesuatu yang dapat diperbaiki."

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist.

Rabu, 22 Mei 2013

Fitri "Kalahkan" Gangguan Saraf demi Sekolah

Fitri "Kalahkan" Gangguan Saraf demi Sekolah

Bagi banyak anak dan remaja di daerah kecil, dalam keterbatasan ekonomi dan fisik, sekolah menjadi barang langka yang harus diperjuangkan dengan keras. Fitri Muyanti menjadi contohnya.

Setelah sempat tiga tahun vakum sekolah karena harus membantu ayah dan ibunya menyadap karet, dia mengaku sempat malu untuk melanjutkan sekolah dan belajar bersama anak-anak lain yang usianya lebih muda. Namun, jalan itu pun tak mudah ketika dia menderita gangguan saraf setelah membantu orangtuanya mencari uang dengan menambang emas di desa tetangga.

Karena kondisi itu, Fitri diperkirakan tak bisa melanjutkan sekolah. Namun, semangat kemudian mengembalikannya duduk di bangku sekolah.

Hilda Luluin, pengajar muda Indonesia Mengajar yang bertugas di SMPN SATAP 04 Bunut Hilir, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mencatat semangat Fitri yang pernah dituangkannya dalam sebuah cerita...

"Pemotong Getah Bisa Jadi Guru"

Namanya Fitri, remaja putri kelas VIII di SMPN SATAP 04 Bunut Hilir. Rambutnya agak keriting dan kulit yang putih kemerah-merahan. Fitri seharusnya duduk di kelas XI SMA. Tiga tahun dia tidak sekolah dan menjadi penyadap getah karet. Fitri pernah bercerita bahwa awalnya dia malu untuk melanjutkan sekolah ke SMP karena usianya yang sudah berlebih. Namun kini Fitri sangat bersyukur karena dua tahun yang lalu ia mengikuti nasihat ibunya untuk melanjutkan sekolah.

Fitri anak yang sangat pendiam. Jarang aku melihatnya nongkrong di tempat Kak Neng (penjual makanan dekat sekolah) sebelum kelas dimulai ataupun saat istirahat seperti murid-murid yang lainnya. Jika aku mempersilahkannya maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal atau percakapan Bahasa Inggris, dia selalu maju dengan muka merah karena malu. Meskipun tampak malu-malu, Fitri selalu bisa mengerjakan soal-soal dengan lancar dan benar. Ia sangat menyukai pelajaran Biologi dan tidak pernah absen mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran itu.

Liburan semester ganjil kemarin, Fitri mengalami musibah saat membantu orang tuanya mencari uang dengan menambang emas di desa tetangga yang mengakibatkan gangguan syaraf. Hampir dua bulan ia berobat ke kota dan tidak mengalami kemajuan. Kelas terasa kurang tanpa kehadirannya. Keadaan Fitri membaik setelah diobati secara tradisional. Namun demikian saudaranya menuturkan bahwa kemungkinan besar Fitri tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Sangat kecewa rasanya ketika mendengar berita itu. Apalagi sebelum liburan berlangsung Fitri menuliskan sebuah cerita :

"Nama saya Fitri Muyanti. Saya adalah anak yang mandiri di sekolah maupun di rumah. Saat sekolah saya tidak pernah jajan. Karena saya berfikir, kalau jajan setiap hari uang saya habis. Uang yang diberi Ayah dan Ibuku untuk jajan di sekolah saya tabung. Supaya saya bisa melanjutkan sekolah lagi. Supaya saya bisa seperti teman lain yang bisa sekolah dan mengejar cita-cita saya. Jika cita-cita saya tercapai saya akan membahagiakan kedua orang tua saya.

Saya sebagai anak yang mandiri, kerja untuk membiayai sekolah diri sendiri. Pekerjaan saya adalah memotong getah. Setiap pagi saya motong getah bersama ibu saya. Saya dan ibu saya berangkat ke kebun menggunakan sampan dan dayung. Kami memotong getah dengan perlahan-lahan supaya kayu yang kami potong tidak mudah mati.

Saya seorang anak pemotong getah. Kadang-kadang berangkat dari pagi sekitar pukul 06.00 WIB dan pulang hingga pukul 11.30 WIB baru pulang dari kebun. Kadang aku dan ibu lapar setelah pulang memotong getah karena belum makan dan minum. Tapi untung ada kakakku di rumah. Dia sangat rajin memasak lauk pauk untuk kami semua. Ayahku bekerja sebagai nelayan. Hasil dari ayah bekerja sebagai nelayan itu yang kami masak.

Saat air pasang, kami memotong getah hingga tergenang air. Kami memotong getah di dalam air yang sangat dingin. Bila memotong getah di waktu banjir, saya banyak menemukan binatang. Terutama seperti ulat, kaki seribu, semut, lintah, siput, dan lain sebagainya yang hinggap di pohon. Sebenarnya saya sangat takut sekali memotong getah disaat banjir. Tapi kami tidak peduli dengan air pasang yang melaputi tubuh kami. Yang kami peduli adalah makan dan minum untuk kami sekeluarga. Mau tidak mau kami harus bekerja. Kalau tidak bekerja kami tidak akan makan.

Memotong getah, itulah harapan saya untuk bisa sekolah seperti teman lain. Bekerja sebagai nelayan tidak mampu mencukupi kebutuhan kami semua. Oleh karena itu kami harus bekerja setiap hari. Dan saya bekerja setiap hari, untuk membiayai sekolah saya dan membiayai makan minum saya.

Saat musim kemarau, Saya dan ibu saya sesampai di penyinggahan naik ke atas tanah tanah yang disertai lumpur. Kaki kami kotor. Tapi kami tidak peduli. Saya dan ibu berjalan terus hingga tiba di kebun kemudian memotong getah. Itulah, betapa sulitnya mencari uang untuk makan dan minum sehari-hari. Tapi kami tidak putus asa bekerja setiap hari. Begitu pula ayahku yang bekerja, berangkat pagi hari dan pulang siang hari untuk menghidupi kami sekeluarga.

Kadang di sekolah, kalau saya belum lapar saya tidak pernah membeli makanan maupun minuman walaupun saya ingin sekali membelinya. Sedangkan teman-temanku, mereka lapar atau tidak, tetap bisa membeli makanan ataupun minuman.Bukan hanya itu saja, kalau ada soal latihan dan saya salah mengerjakannya maka saya tidak mau boros. Kalau teman-teman saya bukunya disobek dan mengerjakan di kertas yang baru. Oleh karena itu saya menabung. Jadi, saat saya ingin membeli sesuatu saya tinggal mengambil uang di dalam tabungan saya sehingga tidak perlu repot-repot meminta uang pada kedua orang tua saya.

Saya belajar hidup mandiri dari kecil hingga sekarang. Oleh karena itu saya tidak pernah menyerah untuk berhenti bekerja. Supaya saya bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Saya sekolah. Saya akan belajar sungguh-sungguh supaya kedua orang tua saya bangga. Saya sekolah agar bisa meraih cita-cita saya menjadi seorang guru. Itulah saya, Fitri Muyanti anak yang mandiri di sekolah maupun di rumah."


Tepat dua bulan meninggalkan desa untuk berobat, Fitri kembali dengan kondisi yang lebih baik. Gangguan saraf yang diperkirakan akan menghalangi kemampuan berpikir Fitri sehingga ia tidak diperbolehkan bersekolah bisa dikalahkan dengan kemauan keras Fitri untuk melanjutkan sekolah. Yah, kini Fitri sudah kembali ke bangku sekolah. Meskipun dengan badan yang tak sekuat dulu, tekad bulat Fitri untuk menjadi guru membuatnya bisa terus melangkah dan belajar. Meskipun dua bulan tertinggal dari teman-temannya, dengan penuh semangat, ia meminjam catatan teman-temannya dan mampu mengejar bahkan mengungguli kawan-kawan yang lain dan terpilih menjadi wakill SMP 4 SATAP Bunut hilir untuk maju di ajang OSN Biologi di Kota Putussibau. Maju Terus Fitri. Pemotong getah bisa jadi guru.

Sumber: indonesiamengajar.org/cerita-pm/

Kamis, 09 Mei 2013

Gagal

Gagal
Oleh: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Kita tidak bisa menutup mata mengenai banyaknya kegagalan yang terjadi di tengah kita. Mulai dari kekalahan dalam olahraga sepak bola, bulutangkis, sampai kinerja lembaga yang hasil kerjanya belum kunjung bisa membuktikan kesuksesannya. Ada juga kegagalan yang menyebabkan tidak hanya kerugian finansial yang besar, tapi juga hilangnya nyawa, seperti jembatan ambruk. Hal yang lebih berbahaya lagi malah bila dampak kegagalan sampai tidak bisa dihitung kerugiannya secara finansial, tapi kerusakannya begitu nyata, seperti suburnya korupsi sampai ke generasi yang lebih muda, ataupun lunturnya pendidikan moral dan budi pekerti. Dengan gencarnya media sosial sekarang ini, caci maki bila kegagalan terjadi seringkali membuat kita merinding. Terlepas dari besar-kecilnya kerugian yang ditimbulkan, komentar-komentar yang "sadis" segera saja menohok pelaku yang pada kenyataannya memang berbuat salah atau bodoh. Di perusahaan, bahkan dalam keluarga pun hal ini terjadi. Ada orang tua yang langsung menghukum anak yang mendapat angka buruk di ujian, ulangan atau pe-ernya. Ada juga atasan yang segera mengganjar kesalahan atau kelalaian dengan cercaan, sehingga pelaku seolah-olah tidak diberi nafas, baik untuk memberi keterangan atau membela diri.

Beratnya hukuman terhadap kegagalan menyebabkan kegagalan bisa dianggap sesuatu yang alergik, tidak boleh terjadi, bahkan tidak boleh ada. Tak heran bila kita melihat tumbuh suburnya sikap defensif. Begitu ada gejala ke arah kegagalan, individu sudah pasang kuda-kuda, siap dengan telunjuknya untuk menuding orang lain. Bisa juga, ia memutar otak untuk berteori panjang lebar, mengeluarkan segala jurus analisa, yang penting, dirinya terlepas dari sorotan, apalagi tanggung jawab untuk menanggung akibatnya. Kebiasaan untuk menghindari kegagalan ini selain menimbulkan stress, juga menghilangkan separuh kesempatan untuk belajar. Padahal kalau dipikir-pikir, mungkinkah kita belajar dari kesuksesan saja? Bila kita sedang mengalami sebuah sukses besar, bukankah kita cenderung tidak belajar dari situasi tersebut? Kita jarang sekali menganalisa "mengapa sukses ini terjadi?", "Faktor apa yang dominan?". "Apa tindakan kita ambil sehingga kesuksesan bisa berulang?", Atau, apakah ini hanya keberuntungan saja? Sementara, bila kegagalan terjadi, dari orang awam sampai ahlinya, akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menganalisa penyebabnya. Individu yang bijak akan langsung memikirkan solusi dan tindakan perbaikan. Jadi, mengapa kita begitu takut gagal?

Dekati Kegagalan

Pesta-pesta kesuksesan di perusahaan sudah lazim kita alami. Sebaliknya, pernahkah kita menelaah bagaimana perusahaan menyikapi kegagalan? Microsoft, perusahaan yang super sukses, kerap "merayakan" kegagalan, bahkan menyebut beberapa kegagalannya sebagai "glorious failures". Mereka sangat jelas memahami sumber kegagalannya dan menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk melakukan "breakthrough". Sebenarnya, bahkan di parlemen sendiri kita lihat ada acara "hearing" atau "dengar pendapat" yang dimaksudkan untuk "mendengar" apa, bagaimana, mengapa suatu kejadian terjadi dan apa solusinya. Jadi, slogan `belajar dari kegagalan' benar-benar harus kita pelajari kembali. Istilah "success by failure" memang ada dan merupakan kenyataan.

Sebuah perusahaan, bahkan berani membuat "Hall of failure" dan bukan "hall of fame" seperti biasanya. Latar belakang pemikiran perusahaan tersebut sangat jelas. Perusahaan mengupayakan agar para karyawan meyakini bahwa kegagalan adalah bagian dari upaya perusahaan yang menginginkan karyawan mau mengambil risiko dan tidak dihantui ketakutan akan kegagalan. Perusahaan tersebut bahkan menginstrusikan untuk mencantumkan cerita kegagalan dan apa yang dipelajari dari kegagalan tersebut, dilengkapi dengan tandatangan yang bersangkutan. Ada individu yang menulis di "hall of failure" dengan mengatakan bahwa setelah 7 tahun berusaha, ia berhenti belajar bermain biola. "Lesson learned" yang ia sampaikan adalah "saya tidak akan peduli dengan pendapat orang bahwa saya tidak bisa main musik". Pernyataan ini, meskipun nampaknya tidak relevan dengan proses bisnis perusahaan, namun sebenarnya menanamkan keberanian pada mental individu untuk siap menghadapi kesulitan dalam situasi apapun. Pimpinan perusahaan bahkan mengatakan "We don't just encourage risk taking at our offices: we demand failure". Kemajuan, inovasi dan sukses memang sesungguhnya lebih mudah dipelajari dari kesalahan-kesalahan di sana sini. Hal seperti ini bermanfaat bila saja pendekatan kita terhadap kesalahan memang positif, mendalam dan ditekuni.

Budaya "strongly - weak!"

Mengembangkan budaya yang sadar akan kelemahan dan menjadikan `lesson learnt" sebagai kekuatan, bisa jelas kita lihat pada olahragawan. Jarang sekali juara-juara olah raga tidak mempelajari kelemahannya. Individu- individu yang demikian, tumbuh menjadi orang yang lebih membumi, kritis, fair, dan jujur, serta bisa memandang bahwa realitas itu menyakitkan, namun penyembuhannya akan membawa ke kesuksesan. Kegagalan seharusnya tidak menjadi sesuatu yang kita ratapi, namun jalan bagi kita untuk juga memahami di mana letak kekuatan kita serta bagaimana kegagalan bisa menjadi momentum untuk membawa perbaikan. Dalam suatu masyarakat, di mana keragaman individu tidak mudah dikontrol, kita memang perlu pemimpin yang mencontohkan sikap belajar dari kegagalan, bahkan membawa kegagalan sebagai sarana untuk mengembangkan `trust'. Kita bisa belajar dari pemimpin negara Jepang dan Cina ketika menghadapi bencana. Rakyat langsung mempunyai respek tinggi terhadapi cara pimpinan menghadapi krisis. Saat menghadapi wawancara, kegagalan yang pernah kita alami pun sebetulnya tidak melulu harus disembunyikan. Bila kita bisa membahas bagaimana sikap dan "action" kita untuk `bouncing back', hal ini malah bisa menjadi nilai tambah kita.
Gagal
Oleh: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Kita tidak bisa menutup mata mengenai banyaknya kegagalan yang terjadi di tengah kita. Mulai dari kekalahan dalam olahraga sepak bola, bulutangkis, sampai kinerja lembaga yang hasil kerjanya belum kunjung bisa membuktikan kesuksesannya. Ada juga kegagalan yang menyebabkan tidak hanya kerugian finansial yang besar, tapi juga hilangnya nyawa, seperti jembatan ambruk. Hal yang lebih berbahaya lagi malah bila dampak kegagalan sampai tidak bisa dihitung kerugiannya secara finansial, tapi kerusakannya begitu nyata, seperti suburnya korupsi sampai ke generasi yang lebih muda, ataupun lunturnya pendidikan moral dan budi pekerti. Dengan gencarnya media sosial sekarang ini, caci maki bila kegagalan terjadi seringkali membuat kita merinding. Terlepas dari besar-kecilnya kerugian yang ditimbulkan, komentar-komentar yang "sadis" segera saja menohok pelaku yang pada kenyataannya memang berbuat salah atau bodoh. Di perusahaan, bahkan dalam keluarga pun hal ini terjadi. Ada orang tua yang langsung menghukum anak yang mendapat angka buruk di ujian, ulangan atau pe-ernya. Ada juga atasan yang segera mengganjar kesalahan atau kelalaian dengan cercaan, sehingga pelaku seolah-olah tidak diberi nafas, baik untuk memberi keterangan atau membela diri.

Beratnya hukuman terhadap kegagalan menyebabkan kegagalan bisa dianggap sesuatu yang alergik, tidak boleh terjadi, bahkan tidak boleh ada. Tak heran bila kita melihat tumbuh suburnya sikap defensif. Begitu ada gejala ke arah kegagalan, individu sudah pasang kuda-kuda, siap dengan telunjuknya untuk menuding orang lain. Bisa juga, ia memutar otak untuk berteori panjang lebar, mengeluarkan segala jurus analisa, yang penting, dirinya terlepas dari sorotan, apalagi tanggung jawab untuk menanggung akibatnya. Kebiasaan untuk menghindari kegagalan ini selain menimbulkan stress, juga menghilangkan separuh kesempatan untuk belajar. Padahal kalau dipikir-pikir, mungkinkah kita belajar dari kesuksesan saja? Bila kita sedang mengalami sebuah sukses besar, bukankah kita cenderung tidak belajar dari situasi tersebut? Kita jarang sekali menganalisa "mengapa sukses ini terjadi?", "Faktor apa yang dominan?". "Apa tindakan kita ambil sehingga kesuksesan bisa berulang?", Atau, apakah ini hanya keberuntungan saja? Sementara, bila kegagalan terjadi, dari orang awam sampai ahlinya, akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menganalisa penyebabnya. Individu yang bijak akan langsung memikirkan solusi dan tindakan perbaikan. Jadi, mengapa kita begitu takut gagal?

Dekati Kegagalan

Pesta-pesta kesuksesan di perusahaan sudah lazim kita alami. Sebaliknya, pernahkah kita menelaah bagaimana perusahaan menyikapi kegagalan? Microsoft, perusahaan yang super sukses, kerap "merayakan" kegagalan, bahkan menyebut beberapa kegagalannya sebagai "glorious failures". Mereka sangat jelas memahami sumber kegagalannya dan menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk melakukan "breakthrough". Sebenarnya, bahkan di parlemen sendiri kita lihat ada acara "hearing" atau "dengar pendapat" yang dimaksudkan untuk "mendengar" apa, bagaimana, mengapa suatu kejadian terjadi dan apa solusinya. Jadi, slogan `belajar dari kegagalan' benar-benar harus kita pelajari kembali. Istilah "success by failure" memang ada dan merupakan kenyataan.

Sebuah perusahaan, bahkan berani membuat "Hall of failure" dan bukan "hall of fame" seperti biasanya. Latar belakang pemikiran perusahaan tersebut sangat jelas. Perusahaan mengupayakan agar para karyawan meyakini bahwa kegagalan adalah bagian dari upaya perusahaan yang menginginkan karyawan mau mengambil risiko dan tidak dihantui ketakutan akan kegagalan. Perusahaan tersebut bahkan menginstrusikan untuk mencantumkan cerita kegagalan dan apa yang dipelajari dari kegagalan tersebut, dilengkapi dengan tandatangan yang bersangkutan. Ada individu yang menulis di "hall of failure" dengan mengatakan bahwa setelah 7 tahun berusaha, ia berhenti belajar bermain biola. "Lesson learned" yang ia sampaikan adalah "saya tidak akan peduli dengan pendapat orang bahwa saya tidak bisa main musik". Pernyataan ini, meskipun nampaknya tidak relevan dengan proses bisnis perusahaan, namun sebenarnya menanamkan keberanian pada mental individu untuk siap menghadapi kesulitan dalam situasi apapun. Pimpinan perusahaan bahkan mengatakan "We don't just encourage risk taking at our offices: we demand failure". Kemajuan, inovasi dan sukses memang sesungguhnya lebih mudah dipelajari dari kesalahan-kesalahan di sana sini. Hal seperti ini bermanfaat bila saja pendekatan kita terhadap kesalahan memang positif, mendalam dan ditekuni.

Budaya "strongly - weak!"

Mengembangkan budaya yang sadar akan kelemahan dan menjadikan `lesson learnt" sebagai kekuatan, bisa jelas kita lihat pada olahragawan. Jarang sekali juara-juara olah raga tidak mempelajari kelemahannya. Individu- individu yang demikian, tumbuh menjadi orang yang lebih membumi, kritis, fair, dan jujur, serta bisa memandang bahwa realitas itu menyakitkan, namun penyembuhannya akan membawa ke kesuksesan. Kegagalan seharusnya tidak menjadi sesuatu yang kita ratapi, namun jalan bagi kita untuk juga memahami di mana letak kekuatan kita serta bagaimana kegagalan bisa menjadi momentum untuk membawa perbaikan. Dalam suatu masyarakat, di mana keragaman individu tidak mudah dikontrol, kita memang perlu pemimpin yang mencontohkan sikap belajar dari kegagalan, bahkan membawa kegagalan sebagai sarana untuk mengembangkan `trust'. Kita bisa belajar dari pemimpin negara Jepang dan Cina ketika menghadapi bencana. Rakyat langsung mempunyai respek tinggi terhadapi cara pimpinan menghadapi krisis. Saat menghadapi wawancara, kegagalan yang pernah kita alami pun sebetulnya tidak melulu harus disembunyikan. Bila kita bisa membahas bagaimana sikap dan "action" kita untuk `bouncing back', hal ini malah bisa menjadi nilai tambah kita.

Selasa, 07 Mei 2013

Seporsi Sate Pak yadi


“Mother, how are you today? Mother, don't worry, I'm fine. Promise to see you this summer. This time there will be no delay.”
-- Maywood dalam ’Mother How are You Today?’

SELESAI meeting, Ratno pun berpamitan. Hasil yang menggembirakan. Klien setuju dengan proposal yang diajukan timnya. Jabat tangan erat menghangatkan malam yang basah. Pertemuan di restoran itu pun usai. Semua tersenyum senang. Ratno ingin segera pulang, dia teramat letih.

Namun kemana Yadi? Sopir kantor yang sedianya siap di halaman parkir. Lagi pula restoran ini tidak memiliki area parkir yang luas. Hanya muat enam hingga delapan mobil. Semestinya, Avanza hitam ada di sana. Ratno menengok ke kiri dan ke kanan. Tak kelihatan. Sampai akhirnya dia pun memencet tuts ponselnya. Yadi, sopir kantornya pun menjawab akan segera kembali dalam waktu lima menit.

Lima belas menit berlalu, tak terlihat lampu mobilnya masuk. Ratno kian gelisah. Sempat terpikir untuk naik taksi saja ke kantor. Tapi niat itu urung karena mobil Avanza hitam sudah masuk ke halaman parkir. Ratno yang kesal langsung masuk mobil, dan hampir menumpahkan kekesalannya, bila Yadi tak segera menyambut dengan senyum dan permintaan maaf.

Mata Ratno menoleh sesuatu. Di kursi depan teronggok satu bungkus plastik berwarna hitam. Rupanya itu yang membuatnya datang terlambat. Tercium bau sate menusuk hidung dari bungkus plastik tersebut. Sepuluh tusuk sate daging ayam masih terasa hangat. ”Buat ibu saya pak, tapi ngantrinya lama banget, maaf ya pak,” kata Yadi sekali lagi.

Yadi pun berkisah tentang ibunya yang sudah tua dan susah menemukan selera makannya. Nah, biasanya dengan menu sate ayam seperti ini dia mau makan. ”Biasanya lahap,” kata Yadi lagi. Si Ibu yang kini tersisa. Ayahnya sudah lama wafat. Ibu dan ayah mertuanya pun demikian.

Ratno tak mau bertanya banyak lagi. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Kalau saja sate yang dibelikan Yadi untuk ibundanya ditaruh di mobil, sudah pasti akan dingin begitu sampai di rumah. Pertama, dia harus mengantarkannya pulang ke rumah. Lalu Yadi kembali ke kantor untuk mengembalikan mobil. Setelah itu Yadi masih harus menempuh perjalanan belasan kilometer dengan sepeda motornya. Sudah pasti jadi anyep nasib sepuluh sate itu. Di mobil ini saja, sate itu sudah ditiup pendingin udara.

”Pak Yadi, AC-nya dimatikan saja. Dingin banget, saya juga pengen merokok.” Sebenarnya dia ingin agar sate yang dibawa Yadi tak begitu dingin. Begitu AC di matikan, Ratno membakar rokoknya.

Dalam asap yang tersembur, pikirannya tiba-tiba melayang pada ibunya yang sudah sepuh di sudut kota Jakarta. Sudah lama dia tidak menyambangi ibunya itu. Kesibukan pekerjaan dan berbagai problema yang harus dihadapinya sering kali membuatnya lupa untuk sekadar meneleponnya.

Tiba-tiba sebungkus sate daging ayam Yadi menohoknya. Yadi, yang penghasilannya tak seberapa bila dibandingkan dirinya, berusaha mati-matian menyisihkan uangnya untuk membeli seporsi sate ayam. Sedangkan dirinya? Dia nyaris melupakan semuanya tentang ibunya, perempuan yang melahirkan dan membesarkannya dengan segala suka dan dukanya. Dia tahu ibunya sangat menyukai roti bakar yang katanya selalu menjadi makanan romantis bersama suaminya yang telah wafat beberapa tahun silam.

Ratno membatin. Dia mengambil ponselnya untuk menelepon rumah ibunya. Sayang tak ada jawab. Bik Ummi, wanita yang setia menemani ibunya juga pasti telah terlelap. Tak lama setelah melewati pertigaan, Ratno pun menyuruh Yadi menghentikan mobilnya. Padahal jarak ke kantor masih jauh.

Ratno menyuruh sopirnya langsung ke kantor. “Nanti Pak Yadi kemalaman sampai di rumah.” Dia sendiri memilih meneruskan perjalanan dengan menggunakan taksi. Betapa indahnya hidup Yadi, yang teramat menyayangi ibunya.

Tak lama kemudian, Ratno menyetop taksi. Di kursi belakang taksi berwarna biru itu, dia menahan haru dan perasaaan bersalah. Sebuah janji dicatat dalam hatinya, akhir pekan ini dia akan mengunjungi ibunya. Bersama dengan anak dan istrinya.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009

Minggu, 05 Mei 2013

Sekolah Untuk Apa ??

Sekolah Untuk Apa?
Oleh: Rhenald Kasali

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.

Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.

Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.

Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?

Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.

Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.

Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.

Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,"ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.

Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.

Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stressnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.

Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? "itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, test masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.

Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.

Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.

Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.

Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.

Rhenald Kasali
Ketua Program MMUI

Sabtu, 04 Mei 2013

Pelajaran dari Kung Fu Panda

Pelajaran dari Kung Fu Panda

Po, si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya,
memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar

Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan
sebagai Pendekar Naga yangdinanti- nantikan kehadirannya untuk
melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang
beberapa hal:

1. The secret to be special is you have to believe you're special.
Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab
Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah
yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif
dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik,
berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal
yang spesial.

Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa.
Seperti kata Master Oogway, You just need to believe

2. Teruslah kejar impianmu.
Po, panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa
menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya
menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran
negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway, kemarin
adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah,
makanya disebut Present hadiah. Jangan biarkan diri kita dihalangi
oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah
di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu
percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.

Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po. Ia memandang Po tidak berbakat.
Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap.
Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu
diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah
Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah
memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah.
Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya
masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya
diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4.Tiap individu belajar dengan cara dan motivasinya sendiri.

Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa
mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po
tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang
kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang
unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika
kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-
anak yang dirugikan.

5. Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa
membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa
mereka ke arah yang salah.

Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid
pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung
sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian
bahwa Tai Lung
akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya
Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar
mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.

Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri
sendiri/anak/ murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja
mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar
informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini
saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi
diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan
orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan
ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang
tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya
proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan.
Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah
yang keliru.

6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan
tinggal dalam hatimu.

Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi
menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi
terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih
sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

7. Keluarga sangatlah penting.
Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat
ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi
Pendekar nomor satu. Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota
keluarga kita?

God Bless You!

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Ternyata Ayah Itu Menakjubkan!

Ternyata Ayah Itu Menakjubkan!

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai.

Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih menyenangkan.

Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu.

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi.

Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis....jadi dia menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala (*_~).

Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar kau bisa "melihat" para malaikat bergelantungan di sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya.

Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru.

Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.

Ayah benar-benar senang membantu seseorang... tapi ia sukar meminta bantuan.

Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.

Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..." tidak terlalu mengecewakan" (^_~). Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu- satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. (*_~).

Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.

Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam...walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati.

Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu dihari pertama masuk sekolah

AYAH ITU MURAH HATI..... Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang
kamu butuhkan.... .

Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya. ....

Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka.....

Ia menghentikan apasaja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara...

Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....

Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. ..

Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....

Ayah akan berkata "tanyakan saja pada ibumu" ketika ia ingin berkata "tidak".

Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin

Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepregok menghisap rokok dikamar mandi.

Ayah mengatakan "tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"

Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya....

Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....

Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

Ayah mengira seratus adalah tip..; Seribu adalah uang saku..; Gaji pertamamu terlalu besar untuknya...

Ayah tidak suka meneteskan air mata .... ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster... tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

Kalau tidak salah ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"

Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: "jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"

Dan Untuk masadepan anak gadisnya ayah berpesan: "jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"

Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu....

Ayah bisa membuatmu percaya diri... karena ia percaya padamu...

Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....

Dan terpenting adalah... Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

Dan untuk semua yang sedang merindukan Ayah,
ssssssssttt. ..! Tau gak siii? Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN

Sumber : Unknown (Tidak Diketahui)

Miskin Tapi Bahagia

Miskin Tapi Bahagia

Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai
apa-apa kecuali uang.
– John D. Rockefeller JR

Dalam rubrik Kilasan Kawat Sedunia, Harian KOMPAS pernah memuat
ringkasan hasil survei yang menarik perhatian saya. Ia menceritakan
hubungan antara uang—indikator utama yang sering dipergunakan untuk
mengukur seberapa kaya atau seberapa miskin seorang anak manusia itu—
dengan kebahagiaan. Survei yang unik dan jarang dilakukan ini—setahu
saya belum pernah ada survei semacam ini di Indonesia—mungkin dapat
memberi pelajaran tertentu pada kita. Berikut petikannya:

Pemeo "uang tak bisa membeli kebahagiaan" ternyata memang benar.
Sebuah survei di Australia menunjukkan, kaum kelas menengah di
Sydney masuk kategori warga yang paling menderita di Australia.
Sebaliknya, tingkat kebahagiaan warga yang hidup di beberapa daerah
pemukiman paling miskin malah lebih tinggi.

"Pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya terasa pada golongan
yang luar biasa kaya," kata Liz Eckerman, peneliti dari Universitas
Deakin, seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (13/2).

"Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ini jelas terbukti dalam jajak
pendapat yang kami lakukan pada 23.000 warga yang sudah kami
wawancarai," kata Eckerman kepada Radio Australia, ABC.

Temuan-temuan yang disusun sejak tahun 2001 menunjukkan bahwa di
Australia, negara dimana tak ada kesenjangan kemakmuran yang
ekstrem, mereka yang hidup paling bahagia ada di lapisan bawah.
Mereka yang happy juga lebih banyak berada dalam kategori usia 55
tahun atau lebih, lebih banyak di antara kaum perempuan, dan
kebanyakan pula ada di antara mereka yang menikah alias yang tak men-
jomblo.

Survei ditujukan untuk mengungkap kepuasan seseorang terkait dengan
berbagai hal, seperti standar hidup, kesehatan, pencapaian dalam
hidup, dan keamanan. Di antara 150 daerah sasaran survei, salah satu
daerah termiskin di Australia, yakni Wide Bay di pedalaman
Queensland, penduduknya ternyata termasuk yang paling bahagia di
negeri kangguru itu.

Terus terang, saya tidak tahu seberapa banyak uang yang harus
dimiliki seseorang untuk bisa masuk dalam kategori kelas menengah di
Sydney. Juga tidak terlalu jelas bagi saya berapa jumlah uang yang
dimiliki oleh rata-rata penduduk Wide bay di pedalaman Queensland,
sehingga mereka disebut daerah termiskin di negara tersebut. Lalu,
berapa pula harta yang dimiliki seseorang agar bisa disebut Eckerman
sebagai "luar biasa kaya"? Datanya tidak disebutkan oleh KOMPAS.

Namun, terlepas dari minimnya data yang bisa kita peroleh, tetaplah
menarik ketika Eckerman, peneliti itu, membuat kesimpulan bahwa yang
hidup paling bahagia di Australia adalah penduduk di lapisan bawah
(miskin); kebanyakan berusia 55 tahun atau lebih; kebanyakan
perempuan; dan kebanyakan menikah. Mereka inilah yang paling merasa
puas dengan standar hidup mereka, puas dengan kesehatan mereka, puas
dengan pencapaian dalam hidup mereka, dan puas dengan keamanan di
lingkungannya. Mereka inilah orang-orang yang miskin, tetapi kaya.
Miskin dalam harta benda, tetapi kaya dalam kepuasan hidup. Sungguh
sebuah realitas yang memesona.

Ada beberapa pelajaran yang saya pulung dari survei di atas.
Pertama, saya menduga penelitian tersebut menempatkan rasa puas---
atas standar hidup; atas kesehatan; atas pencapaian dalam hidup; dan
atas keamanan di lingkungannya- --sebagai indikator utama
kebahagiaan. Dan jika hal itu kita gunakan untuk bercermin, maka
kita bisa mencoba menjawab empat pertanyaan berikut:
1. Apakah saya puas dengan standar hidup kita sejauh ini?
2. Apakah saya puas dengan kesehatan saya sejauh ini?
3. Apakah saya puas dengan apa yang sudah saya capai dalam hidup
sejauh ini?
4. Apakah saya puas dengan keamanan di lingkungan saya sejauh ini?

Bisakah kita menjawab YA dengan mantap untuk keempat pertanyaan
sederhana semacam itu? Atau mungkin jawaban kita perlu diberi bobot
tertentu, katakanlah untuk tiap jawaban menggunakan skala 1-5. Angka
1 berarti TIDAK PUAS SAMA SEKALI, angka 2 berarti TIDAK PUAS; angka
3 berarti CUKUP PUAS; angka 4 berarti PUAS; dan angka 5 berarti
SANGAT PUAS. Sehingga, total nilai 12 berarti CUKUP PUAS dan total
nilai 20 berarti SANGAT PUAS. Mereka yang bisa mengumpulkan nilai
mendekati angka 20-lah yang pantas kita anggap bahagia. Nah, dengan
demikian kita bisa mengukur seberapa bahagia diri kita masing-
masing, setidaknya untuk saat ini. Lalu kita juga bisa menyadari
pada bagian mana dari keempat hal tersebut yang kita rasa paling
meresahkan dan mengurangi kebahagiaan hidup kita sejauh ini. Dari
sini kita kemudian bisa memikirkan cara-cara yang bisa dilakukan
untuk meningkatkan kebahagiaan kita.

Pelajaran kedua yang saya petik adalah soal hubungan antara
uang/kekayaan dengan kebahagiaan. Sudah lama saya mengetahui bahwa
uang dan kebahagiaan adalah dua hal yang tidak selalu berkaitan.
Setidaknya saya mengenal sejumlah kawan yang punya uang miliaran
rupiah dan kadang mengaku bahwa hidupnya tidak bahagia. Sementara
itu sejumlah kawan lain yang uangnya tidak sampai miliaran tak
pernah saya dengar mengeluhkan soal apakah dirinya bahagia atau
tidak. Jadi saya sering bingung jika melihat sebagian kawan berjuang
mati-matian untuk bisa kaya karena percaya kalau kekayaan bisa
membuat mereka pasti bahagia. Sementara yang sudah jauh lebih kaya,
mengaku tidak bahagia. Nah, atas kebingungan inilah survei Eckerman
tadi bisa memberi sedikit penjelasan. Hanya pada orang atau golongan
yang "luar biasa kaya", ada hubungan antara uang mereka dengan
kebahagiaan mereka. Seakan-akan ada semacam ambang batas kekayaan
yang bisa membuat kekayaan itu berdampak langsung pada kebahagiaan.
Ambang batas itu tidak disebut, mungkin satu juta dolar Amerika,
atau jumlah yang lebih besar.

Pelajaran ketiga, dan buat saya paling mengesankan, adalah
kesimpulan survei tersebut yang menunjuk sebuah daerah termiskin di
pedalaman Queensland memiliki penduduk yang paling bahagia.
Kesimpulan ini sungguh membesarkan hati. Sebab ini membuka
kemungkinan bahwa kawan-kawan saya di pelosok-pelosok yang sulit
terjangkau sarana transportasi modern—seperti di Papua, misalnya—
amat boleh jadi adalah orang-orang yang paling bahagia hidupnya.

Nah, apakah Anda kaya atau Anda bahagia?

Sumber: Miskin Tapi Bahagia oleh Andrias Harefa, Pembelajar Mindset Transformation, Certified Trainer and Therapist, Penulis 30 Buku Best-Seller

Bahagia Menjadi Guru

Bahagia Menjadi Guru

"Happiness comes of the capacity to feel deeply, to enjoy simply, to
think freely, to risk life, to be needed. – Kebahagiaan berasal dari
kapasitas untuk merasakan, menikmati, berpikir bebas, menghadapi
resiko hidup, dan menjadi dibutuhkan."
Storm Jameson.

Kebahagiaan adalah ide yang sangat abstrak dan bersifat sangat
subyektif. Kebahagiaan dapat terkait dengan tercapainya suatu
keinginan atau kebutuhan kita. Tetapi kebahagiaan seorang guru
menurut saya sangat terkait dengan tanggung jawabnya mendidik dan
mengajarkan nilai-nilai penting dan inspiratif terhadap para
siswanya. Ketika seorang guru dapat melakukan beberapa hal berikut
ini kemungkinan besar ia dapat memiliki semua sumber kebahagiaan
bahkan lebih dari semua yang dipaparkan oleh Storm Jameson tersebut.

Seorang guru bahagia karena ia mencintai profesi sebagai pendidik.
Ia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika dapat mendidik para murid,
walaupun mungkin kehidupan pribadi mereka sederhana dan jauh dari
kemewahan. Seorang guru akan jauh lebih bahagia, jika apa yang telah
mereka lakukan tak hanya membuat para murid pintar melainkan
menginspirasi bahkan menggerakkan para murid untuk mengubah diri
mereka menjadi lebih baik.

Mencintai proses pembelajaran dengan memperluas wawasan ilmu
pengetahuan melalui berbagai macam buku, seminar, kaset, radio dan
lain sebagainya adalah sumber kebahagiaan seorang guru. Karena
tanggung jawab seorang guru bukanlah sekedar menjelaskan subyek atau
materi pelajaran, melainkan memberikan contoh sikap bahwa kemauan
untuk terus belajar dapat meningkatkan kreatifitas dan memaksimalkan
potensi diri. Seorang guru akan semakin bahagia jika mampu
menginspirasi para siswa belajar lebih giat.

Rasa syukur yang besar terhadap Tuhan YME mendatangkan keindahan dan
kebahagiaan. Rasa syukur membuat guru lebih bahagia, karena rasa
syukur itu membuatnya dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada para
muridnya dengan bahasa yang positif pula. Ia akan lebih bahagia jika
sikap yang positif serta ilmu pengetahuan yang ia sampaikan
menginspirasi para muridnya untuk lebih kreatif dan positif dalam
menggunakan ilmu pengetahuan tersebut.

Seorang guru akan bahagia jika tidak membebani hidupnya dengan
orientasi mendapatkan imbalan. Ia bahagia karena tidak pernah
mengharap balas jasa dari murid atas semua yang diberikannya. Ia
sudah cukup senang dapat mengabdikan diri untuk membentuk para tunas
bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Guru akan bahagia jika berhasil membangkitkan semangat para murid
yang nyaris terpuruk karena kehilangan jati diri. Untuk semua itu ia
akan rela melakukan apapun, walaupun harus menghadapi banyak
kesulitan. Mendampingi dan membentuk anak-anak didik menjadi tegar
dan optimis, baginya jauh lebih menyenangkan dibandingkan apapun
juga.

Seorang guru bahagia, jika ia menjadi diri sendiri dan tidak
membandingkan dengan orang lain. Ia bebas berekspresi sebagai diri
sendiri dalam menyampaikan ilmu pengetahuan agar terserap dan
bermanfaat bagi anak didiknya. Ia akan berbahagia jika etika yang ia
tunjukkan itu dapat menumbuhkan keberanian para murid untuk
menjalani kehidupan dengan jujur dan menghargai diri sendiri.

Guru bahagia karena ia mencintai murid-muridnya, bagaimanapun
keadaan mereka. Ia menikmati saat bersama-sama berjuang melawan
keterbatasan diri dengan ilmu pengetahuan dan budi pekerti.
Sebagaimana M. Scott Peck mengatakan, "When we love something it is
of value to us, and when something is of value to us we spend time
with it, time enjoying it and time taking care of it. – Ketika kita
mencintai sesuatu maka itu akan berarti bagi kita. Ketika sesuatu
berarti bagi kita, maka kita akan senang menghabiskan waktu
untuknya, menikmatinya, dan memeliharanya" .

Guru yang bahagia adalah guru yang terus memperkaya ilmu
pengetahuannya. Dengan demikian ia dapat mengkreasikan metode
mengajar, sehingga para murid dapat dengan mudah menyerap ilmu
pengetahuan yang ia sampaikan. Semakin luas ilmu yang ia miliki,
semakin mudah baginya mengubah kesulitan hidup menjadi anugrah yang
membahagiakan.

Seorang guru bahagia, karena kehidupannya berjalan seimbang.
Keseimbangan tersebut dikarenakan ia mampu memanajemen waktu. Ia
dapat menggunakan waktu secara efektif dan proprosional untuk diri
sendiri, keluarga, profesi, kegiatan sosial, belajar dan beribadah.
Sumber kebahagiaan seorang guru berasal dari dalam dirinya sendiri.
Ia bahagia ketika mampu menginspirasikan harapan, kebahagiaan,
kekuatan sekaligus nilai-nilai moralitas kepada generasi masa depan.
Ia akan lebih bahagia jika para anak didik itu mampu melakukan hal
serupa dengan dirinya.

Note : Artikel ini adalah inti pembicaraan di Seminar
Pendidikan "Menjadi Guru Yang Menyenangkan, Inovatif dan Kreatif."
(Anjuran Yayasan Pendidikan Sinar Dharma)

Sumber: Bahagia Menjadi Guru oleh Andrew Ho, seorang pengusaha,
motivator, dan penulis buku-buku best seller.

Tidak Apa-apa, Kan Masih Ada Hari Esok...

Tidak Apa-apa, Kan Masih Ada Hari Esok...

Sebagai permintaan maaf kepada sahabat yang lama tidak pernah gue sapa, seorang sahabat yang lama sekali tidak gue dengar suara dan kabarnya, sahabat yang dimasa lalu yang mungkin gw pernah berbuat salah, maka gue kirim tulisan ini : "Tidak apa-apa, kan masih ada hari esok"

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta Maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi Paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya. Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya." Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan Waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya Dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya.

Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70.

Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa Sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu…." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata dipipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!

Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera. Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu. Jangan tunda Atau…. masih Ada hari esok…….

Memaafkan Diri Sendiri

Ketika Lebaran tiba, ada seorang Bapak yang tampaknya kurang antusias. Padahal, puasa sudah ia lewati, dan seharusnya ini menjadi hari kemenangannya. Dari luar, ia tampak sibuk bersilaturahmi dan mengunjungi saudara-saudaranya. Pokoknya, ia mengikuti ritual Lebaran, namun hatinya, tidak disitu. Dan setelah beberapa hari Lebaran lewat akhirnya si Bapak ini berkeluh kesah pada seorang temannya. “Kenapa ya, kita sudah bermaaf-maafan, dan saya pun sudah meminta maaf maupun memaafkan orang yang salah pada saya”, katanya menghela nafas panjang, “Tetapi.. .tetap saja saya tidak merasakan adanya damai di hati saya”. Temannya yang mendengarkannya dengan tenang, berpikir sejenak lalu mengomentari, “Kawan, mungkin itu disebabkan karena kamu sendiri belum memaafkan dirimu!”

Begitulah para Pembaca. Tradisi maaf-memaafkan pada saat Hari Raya Lebaran yang menyehatkan secara mental dan spiritual ini, seringkali berwujud sebagai suatu seremonial belaka. Padahal, berbagai tulisan dan penelitan mengemukakan bahwa pemaafan, bukan saja diperintah oleh agama, tetapi secara psikologis, juga sangat menyehatkan.

Baru-baru ini, majalah populer psikologi terkenal di dunia yakni Psychology Today, menulis soal forgiveness ataupun pemaafan, khususnya soal pemaafan diri. Tulisan ini melansir kembali penelitian Stanford Forgiveness Project yang dipimpin oleh Dr.Luskin. Hasilnya, setelah 6 bulan belajar teknik dan filosofi memaafkan, mereka yang yang akhirnya betul-betul memaafkan, mampu hidup lebih sehat dan bahkan 70% merasa lebih bahagia. Menariknya, salah satu bagian dari proses pemaafan yang justru menjadi kuncinya adalah tatkala ketika dari sekitar 259 peserta penelitian ini belajar untuk memaafkan diri mereka terlebih dahulu.

MENGAPA MEMAAFKAN DIRI?

Seringkali dikatakan bahwa kunci memaafkan orang lain adalah memaafkan diri sendiri. Terkadang, kita bertemu dengan orang yang lebih mudah memberi ampunan dan maaf pada orang lain, tetapi terus-menerus menyiksa dirinya dengan kasalahan atau pun kegagalan yang pernah mereka lakukan di masa lampau.

Saya pun teringat kisah dalam film “Eat, Pray and Love” yang diperankan Julia Robert. Di kisahkan, dalam perjalanannya ke India, ia bertemu dengan seorang bapak bernama Richard dari Texas yang keluarganya hancur bahkan ia meceritakan kisah tragis tentang kesalahan yang ia perbuat terhadap keluarganya. Akibatnya, begitu lamanya si Richard ini tidak bisa berdamai dengan dirinya. Dan meski pun jauh-jauh dari Texas hingga ke India, Richard mengakui ia belum bisa memaafkan dirinya.

Mirip kisah ini, saya pun pernah mendengar konseling dari seorang wanita yang mengatakan bagaimana ia sulit memaafkan dirinya gara-gara menyebabkan ibunya stroke yang akhirnya meninggal. Ia mengatakan ketika bertahun-tahun yang silam ia pernah dilarang ibunya berhubungan dengan seorang pria. Karena kesal, ia pun membentak dan bertengkar hebat dengan Ibunya. Ternyata, malamnya si Ibu mengalami stroke dan beberapa hari kemudian, meninggal.

Seperti kisah-kisah di atas, kita bisa melihat bahwa, terkadang jauh lebih mudah bagi kita tatkala berhubungan dan memberi maaf pada orang lain. Namun, ketika ini telah menyangkut diri sendiri, tak mudah untuk melakukannya. Khususnya jika ini terkait dengan masa lalu atau kesalahan fatal, kebodohan, kelalaian, kecerobohan yang sangat sulit untuk kita lupakan.

Gary Zukav, salah seorang penulis pengembangan diri, dalam wawancara di acara TV Oprah Show beberapa tahun silam, menggunakan ilustrasi orang yang tidak memaafkan dirinya ibarat seperti orang yang terus memikul tas berat di pundaknya. Kemana-mana tanpa mau sedetik pun ia mau melepaskannya. Dengan cara memikul tas itu, menurut Zukav orang berpikir bahwa itulah cara untuk menghukum dan membebaskan dirinya dari kesalahan masa lalu. Tetapi, bukannya merdeka, justru orang semakin terpuruk dalam proses menghancurkan dirinya.

4 LANGKAH MEMAAFKAN DIRIMU!

Setiap orang berbuat salah, tetapi tidak semua orang mampu menerima dan berdamai dengan kesalahan itu. Ada baiknya kita pun belajar untuk mulai memaafkan diri kita sendiri, sebelum kita memaafkan dan meminta maaf dari orang lain. Dan semua proses itu harusnya dimulai dari keinginan kita untuk mengatakan, “Saya memberi izin pada diri Saya sendiri untuk sembuh”. Sebagai tips, ada empat langkah penting dalam rangka membereskan ‘tas-tas’ kesalahan masa lalu kita.

Pertama, membuka hati kembali. Ketika kita mulai diliputi rasa bersalah, rasa malu dan rasa penyesalan atas apa yang terjadi, kita mulai menyelimuti diri kita dengan kabut hitam. Tak mengherankan jika rasa penyesalan ini sering berakhir dengan pikiran ingin melukai diri sendiri, bunuh diri atau pun keinginan untuk mensabotase potensi maupun apa yang akan kita capai. Saya teringat dengan seorang Bapak tua pebisnis sukses yang setiap hari, dalam konselingnya berkata, “Buat apa saya sukses? Saya sukses tetapi anak saya narkoba. Ini gara-gara saya tidak menjaganya ketika masih kecil. Saya merusaknya demi ambisi saya”. Sebenarnya, si Bapak ini mestinya sadar mengulang-ulang kalimat semacam itu tidak akan ada gunanya. Jauh lebih baik bagi si Bapak ini untuk mulai berpikir, saatnya untuk STOP penghukuman diri ini dan memikirkan hal yang lebih baik dan lebih masuk akal untuk dilakukan.

Kedua, cobalah untuk mencintai diri kembali. Terkadang, apa yang membuat kita tidak bisa memaafkan diri adalah karena kita melihatnya dari posisi sekarang. Tetapi, jika kita kembali ke situasi waktu kejadian yang kita sesali terjadi, mungkin kita akan melihat bahwa kita tidak punya banyak pilihan atau tak jarang dalam kondisi yang terjepit. Akibatnya, kita pun terpojok untuk mengambil keputusan tersebut. Coba lah untuk melihat alasan lain yang mungkin bisa membuat diri Anda memaklumi bahkan mengerti, juga memaafkan diri Anda dalam situasi itu.

Ketiga, banyak orang berpikir bahwa dengan rasa bersalah atau rasa malu atau pun rasa penyesalan terus-menerus, ini berarti menunjukkan perasaan sayang kita. Inilah cara berpikir yang salah. Kita boleh merasa bersalah, tapi bukanlah berarti kita harus terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah itu. Bisa jadi, orang yag kita buat salah pun, berharap kita menjadi bahagia dan tidak larut lagi dalam penyesalan dan penderitaan kita. Daripada hanya duduk menyesal, mungkin lebih baik kita arahkan rasa penyesalan itu dengan melakukan sesuatu yang lebih konkret dan positif.

Empat, mulailah melakukan sesuatu yang lebih positif. Ada seorang pemabuk yang pernah menabrak mati seorang bocah, akhirnya memutuskan untuk menghidupi keluarga bocah yang miskin itu. Bahkan, ia juga membangun panti asuhan untuk anak-anak yang kurang mampu. Begitu pula ada kisah seorang yang akhirnya menjadi dokter karena pernah menyebabkan cacat seumur hidup pada adiknya, gara-gara salah memberinya obat. Jadi pikirkanlah apa yang bisa dilakukan, daripada terus-menerus tenggelam dalam rasa penyesalan ini.

Akhirnya, semoga kita selalu ingat, sebelum kita minta maaf dan memaafkan orang lain, pastikan kita juga memaafkan diri kita sendiri!

* Anthony Dio Martin, Trainer, Motivator, Penulis buku-buku Bestseller

Selamatkan Pernikahan Sebelum dimulai

"Hingga kematian memisahkan kita" suatu ungkapan yang sering diucapkan oleh
sepasang  kekasih  yang  sedang jatuh cinta.  Tetapi bagi sebagian pasangan
setelah  menikah,  ungkapan  tersebut  berubah  menjadi  "hingga perceraian
memisahkan kita"

Bagaimana  kita  dapat  membangun  suatu pernikahan yang sukses?  Terkadang
pasangan lebih memikirkan persiapan pesta pernikahan yang sempurna daripada
rencana  kehidupan yang akan dijalani setelah pernikahan itu.  Padahal yang
paling  utama  adalah kelansungan hidup pernikahan itu sendiri karena hidup
pernikahan  memiliki  kesulitan  tersendiri.  Ada banyak pasangan mengalami
perpecahan  karena tidak menyadari titik rawan pernikahan.  Titik rawan itu
biasanya  timbul  dari komunikasi yang buruk, hal-hal yang berkenaan dengan
jenis  kelamin dan rohani yang tidak sehat.  Namun kebahagiaan dapat diraih
apabila pernikahan itu memiliki harapan dan pandangan yang positif terhadap
kehidupan,   memiliki   konsep   yang   realistis   tentang   cinta,  mampu
mengkomunikasikan  perasaan-perasaan, mengerti dan menerima perbedaan jenis
kelamin,  mampu  mengambil  keputusan  dan menyelesaikan perselisihan serta
memiliki suatu landasan rohani dan tujuan yang sama.  Bagaimana cinta dapat
memperkuat suatu hubungan pernikahan?

Anatomi Cinta
Apakah  cinta  itu?   Cinta tidak mudah dimengerti.  Dalam cinta terkandung
kasih  sayang  dan  kemarahan,  kegairahan  dan  kebosanan,  kestabilan dan
perubahan,  pembatasan  dan  kebebasan.   Robert Stenleg, seorang psikologi
dari  Yale University telah mengembangkan suatu model segitiga cinta, yaitu
salah  satu  pandangan  yang  paling terkemuka yaitu "Cinta bagaikan sebuah
segitiga yang memiliki tiga sisi; gairah, keintiman dan komitmen."

a.   GAIRAH.   Sebagai  sisi  pendorong  perasaan  untuk  bercinta.  Gairah
bersifat  sensual  dan seksual, ditandai oleh rangsangan biologis dan suatu
keinginan yang besar akan kasih sayang yang dinyatakan secara fisik.

b.   KEINTIMAN.  Sebagai sisi emosional.  Keintiman merupakan isi kerinduan
hati  yang terdalam akan kedekatan dan penerimaan.  Apabila dua orang tidak
saling   mengenal   secara   mendalam,   mereka  tidak  dapat  menyatu  dan
dipersatukan.    Sebab   timbulnya   cinta   tergantung  kepada  kedekatan,
komunikasi  dan  saling  berbagi.   Sehingga tanpa keintiman, pasangan akan
tetap merasa sendiri, walaupun mereka sudah hidup dalam satu atap.

c.   KOMITMEN.   Sebagai  sisi Kognitif dan kemauan.  Komitmen memandang ke
masa  depan  yang  tidak  kelihatan dan berjanji akan berada di sana hingga
akhir  hayat.   Komitmen  menjanjikan  kepastian dan menjaga cinta terhadap
pasangan, saat gairah menjadi redup.

Tahap-tahap Cinta
Cinta   yang  menggairahkan  pada  awal  pernikahan  tidak  dapat  menjamin
langgengnya  suatu pernikahan.  Tetapi kemampuan untuk menerima sifat cinta
yang berubah-ubah akan membuat pasangan rileks saat menghadapi tekanan yang
menguji daya tahan setiap pasangan.

Pernikahan  merupakan  sebuah  perjalanan atau tahap-tahap cinta yang dapat
diperkirakan  sebelumnya.   Setiap  tahap dibangun di atas tahap yang lain,
kemudian dibawa ke dalam cinta yang utuh.

a.   ROMANTIS.   Merupakan  tahap  awal  dimana pasangan-pasangan melupakan
individu  dan  identitas  masing-masing  dan  berusaha saling menyukai satu
dengan lainnya serta menikmati keindahan, kebahagiaan dan rasa memiliki.

b.   KEKUATAN  PERGUMULAN.  Tahap yang penuh dengan ketegangan dimulai dari
munculnya ketidakserasian da perbedaan-perbedaan yang makin nyata.

c.  KERJA SAMA.  Pasangan-pasangan pada tahap ini menyadari bahwa cinta lah
yang  terutama.   Bukan  melihat  luat  tetapi  melihat  ke dalam pada diri
masing-masing  pihak  dan  memilkul  tanggung  jawab  atas  masalah-masalah
pribadi mereka.

d.   KEBERSAMAAN.   Inilah  tahap dimana ada rasa saling menyatu dan saling
memiliki sehingga mendatangkan rasa aman.

e.   KREATIVITAS  BERSAMA.   Pada  tahap  ini  irama  keintiman  tiba  pada
pengembangannya.    Masing-masing   pasangan   berkreativitas  bersama-sama
mengembangkan   suatu  jaringan  hubungan  yang  bermakna  untuk  mendukung
pernikahan dan memperdalam kebahagiaannya.

Membuat Cinta Bertahan Seumur Hidup
Cinta  yang  abadi  tidak  terjadi  begitu  saja,  tetapi harus dipelajari,
dipratekkan dan diasah.  Pernikahan yang sukses adalah hasil dari dua orang
yang bekerja sama dan trampil untuk mengembangkan cinta mereka.

Berikut ini ada beberapa petunjuk untuk mengembangkan pernikahan:
a.  Memelihara Gairah
     Beberapa strategi untuk memelihara gairah :
1.  Lakukan sentuhan yang bermakna
2.  Rencanakan pengalaman-pengalaman yang saling membahagiakan .
3.  Berikan pujian kepada pasangan anda.

b.  Memelihara Keintiman
      Beberapa hal yang harus diingat untuk memelihara keintiman.
1.  Luangkan waktu bersama
2.  Dengarkan dengan telinga ke tiga
3.  Praktekkan penerimaan tanpa syarat

c.  Memelihara Komitmen
     Untuk  memelihara  unsur  komitmen  yang penting dalam pernikahan, ada
beberapa petunjuk yang dapat dijadikan sebagai referensi, yaitu :
1.  Hargailah tingginya nilai komitmen
2.  Penuhilah kebutuhan-kebutuhan pasangan anda
3.  Jadikan komitmen sebagai bagian dari keberadaan anda

Komunikasi yang Baik
Komunikasi  yang  baik  dibangun atas dasar "siapa kita" baru kemudian "apa
yang kita lakukan".  Untuk menikmati komunikasi yang baik dalam pernikahan,
ada tiga sifat pribadi yang harus dimiliki, yaitu kehangatan, ketulusan dan
empaty.

a.   KEHANGATAN.   Pasangan  datang kepada kita dengan sekumpulan kelemahan
dan  kekurangan  yang  tidak  dapat  diterima,  beberapa di antaranya sudah
diketahui  dan  masih  banyak  yang  belum  ketahuan.   Abaikanlah kekurang
tersebut  demi  keindahan  yang  ada di balik itu.  Kunci kehangatan adalah
penerimaan.   Daripada hanya menilai dan menuntut, lebih baik kita menerima
perasaan  dan  tindakan orang yang kita cintai.  Kehangatan memperkuat rasa
percaya  diri  dan  menahan  dia  agar  tidak  mengubah  kepribadiannya dan
berpikir seperti yang kita inginkan.

b.   KETULUSAN.   Ketulusan  diekspresikan  bukan  dengan kata-kata, tetapi
dalam  nada  suara  dan  perilaku  non  verbal,  mata dan sikap tubuh kita.
Seseorang  dapat  menghujani  pasangan  dengan  cinta tetapi bila tidak ada
ketulusan cinta itu akan hampa.

c.  EMPATI.  Contoh ilustrasi, "Cara terbaik untuk mencegah agar kita tidak
menginjak  kaki  pasangan  kita adalah dengan meletakkan diri kita di dalam
sepatunya"  ilustrasi  ini menggambarkan bahwa, Empati adalah melihat dunia
dari pandangan pasangan kita.

Perusak Pernikahan
Jika  hendak  menumbuhkan  kebahagiaan  dengan  pasangan  kita,  kita perlu
menghindari racun dalam pernikah sebagai berikut :

a.  Mengasihi diri sendiri
b.   Mempersalahkan  orang  lain.   Ketidakbahagiaan  dapat disebabkan oleh
kebiasaan  yang  cenderung selalu menyalahkan pasangan (salah satu pasangan
menjadi  kambing  hitam). Perlu diingat bahwa ketidakbahagiaan tidak pernah
disebabkan oleh satu orang, artinya bukan mencari "siapa yang salah" tetapi
"apa yang salah".
c.   Dendam.   Bila  kita  terus  memikirkan  kekecewaan,  sakit  hati  dan
kemarahan, kemudian mengingat-ingat perlakuan yang tidak adil terhadap diri
kita,  akan  menambah  emosi  dan  menghancurkan semangat untuk menumbuhkan
kebahagiaan.

Apa yang Perlu Diketahui Setiap Suami Mengenai Istrinya
Kebutuhan   istri  yang  paling  mendasar  dalam  pernikahan  adalah  untuk
dicintai, dimengerti dan dihargai.

a.   DICINTAI.   Apa  yang  dapat dilakukan seorang suami untuk menunjukkan
cintanya kepada istrinya ?
Pikirkan ungkapan "Aku Mencintaimu".  Bagi beberapa pria merasa tidak perlu
untuk  mengucapkan  kata  tersebut,  tetapi bagi seorang istri butuh (ingin
mendengar) ungkapan tersebut dari suaminya.

b.      DIMENGERTI.     Bagi    wanita    dimengerti    berarti    menerima
perasaan-perasaannya, misalnya mendengarkan, memahami dan merepleksikan apa
yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh pasangan.

c.    DIHARGAI.    Menghargai   istri   berarti  menghargai  dan  mendukung
keputusan-keputusan  dalam  memenuhi  impiannya.   Untuk memulainya, jangan
berusaha  untuk  mengubah  atau memanipulasinya.  Tetapi hormati kebutuhan,
keinginan  dan  nilai-nilai  serta  haknya.   Akibat  sikap menghargai ini,
seorang istri aka lebih bersikap santai dan terbuka.

Apa yang Harus Diketahui Istri Mengenai Suaminya
Kebutuhan  suami  yang  paling  mendasar  dalam pernikahan adalah dikagumi,
memiliki otonomi dan menikmati kegiatan bersama.

a.  DIKAGUMI.  Suami mengukur harga dirinya melalui apa yang sudah dicapai,
besar  atau  kecil  hasil yang dicapai membutuhkan pengakuan dari istrinya.
Pengaguman  adalah bahan bakar yang dibutuhkan pria untuk lebih maju karena
memberikan  kekuatan.   Tetapi  perlu  diingat,  jangan pernah berpura-pura
mengagumi   dengan  kata-kata  pujian.   Sebaiknya  agar  pengaguman  istri
benar-benar memiliki nilai, pujian itu harus tulus tercermin dalam perasaan
yang sesungguhnya.

b.   PERLU  OTONOMI.  Sebagian kebutuhan otonomi adalah memberi ruang untuk
suami (kebutuhan untuk menyendiri).  Ada istri mengeluh karena suami mereka
tidak  segera  menceritakan hal-hal yang dialami suaminya apabila sampai di
rumah sepulang dari kantor.  Tanpa menyadari suami ingin membaca koran atau
menyiram  tanaman atau apapun yang dilakukan lebih dahulu untuk menyegarkan
pikiran mereka sebelum memulai bercakap-cakap.

c.   KEGIATAN  BERSAMA.   Seorang pria membangun keintiman dengan cara yang
berbeda.    Ia   membina   hubungan   dengan   melakukan  pekerjaan  secara
bersama-sama.   Misalnya bekerja di kebun, melakukan pekerjaan rumah, pergi
nonton  bersama  istrinya.   Suami menjadikan istri sebagai teman.  Hal ini
sangat baik apabila istri ikut dalam kegiatan bersama tersebut.

Kesalahan yang Dilakukan oleh Pasangan Suami Istri
a.   MENGKRITIK.   Mengeluh  itu  baik,  mengungkapkan  keluhan jenuh lebih
daripada  mendendam  di dalam hati.  Sepintas tampaknya tidak ada perbedaan
antara   mengeluh   dan  mengkritik.   Tetapi  perbedaannya  sangat  besar.
Artinya,  mengkritik  lebih  merupakan  tindakan yang menyerang kepribadian
seseorang,   misalnya  menyalahkan dan membuat sebuah serangan pribadi atau
tuduhan.   Sementara  mengeluh  adalah suatu komentar mengenai sesuatu yang
tidak  diinginkan.   Menerima  sebuah  kritikan  jauh  lebih buruk daripada
menerima suatu keluhan.

b.   MENGHINA.   Penghinaan  adalah racun bagi hubungan.  Ketika penghinaan
muncul, perasaan positif terhadap pasangan akan lenyap.

c.  MEMBELA DIRI.

d.   MEMBISU.  Membisu seringkali dianggap sebagai usaha agar tidak membuat
persoalan  semakin  buruk.   Tetapi  mereka  tidak  menyadari bahwa membisu
adalah  tindakan  yang  sangat  berpengaruh.   Tindakan tersebut menyatakan
suatu  penghinaan, sikap dingin dan keangkuhan yang bisa membuat pernikahan
menjadi rapuh.

BERTENGKAR DENGAN BAIK
Tidak adanya konflik (konflik yang wajar) dalam rumah tangga bukanlah tanda
yang  baik bagi pernikahan.  Pasangan yang menolak menerima konflik sebagai
bagian  dari  pernikahan  akan  kehilangan  kesempatan untuk secara kreatif
menantang  dan  ditantang.  Jadi konflik adalah wajar dan tidak lagi selalu
menggambarkan suatu krisis, melainkan sebuah kesempatan untuk berkembang.

Bagaimana Cara Bertengkar Dengan Baik ?
a.  Jangan lari dari pertengkaran.

b.   Pilihlah  pertengkaran  dengan hati-hati.  Apabila hendak marah karena
dalam   melaksanakan  pekerjaan  rumah  si  pasangan  tidak  sesuai  dengan
keinginan  kita,  maka  pikirkan  terlebih  dahulu  apakah  marah itu perlu
dilakukan atau tidak.

c.   Terangkan  masalah  dengan  jelas.   Ketika  merasa  suasana  memanas,
mintalah   pasangan   supaya  menjelaskan  penyebab  pertengkaran  tersebut
sehingga masing-masing dapat memahami masalahnya.

d.   Nyatakan  perasaan  kita secara langsung.  Memberikan tanggapan kepada
apa  yang  dilakukan  pasangan  jauh  lebih  baik daripada tidak memberikan
tanggapan untuk membela diri terhadap hal yang tidak membawa kemajuan.

e.   Nilai  Intensitas  perasaan-perasaan  kita.   Hal  tidak  seiman  akan
menimbulkan  masalah,  karena  apa  yang  dianggap  penting  oleh seseorang
mungkin kelihatan tidak penting bagi pasangan.

f.  Berhenti Menghina.

Memelihara Jiwa Pernikahan
Kebutuhan  dalam  pernikahan  bukanlah  sekedar kegembiraan, daya tarik dan
kegiatan   yang  lebih  banyak,  tetapi  jauh  dari  semua  itu  pernikahan
membutuhkan  kehidupan  rohani.   Setidaknya disiplin kehidupan rohani akan
membawa  teman hidup berjalan dari kehidupan biasa saja menuju ke kedalaman
ibadah, pelayanan dan doa.

a.   IBADAH.   Ibadah memiliki cara tertentu untuk mengubah suatu hubungan.
Ibadah  bersama akan menjadi suatu sarana untuk memelihara jiwa pernikahan.
Pasangan  suami  istri yang sering melakukan ibadah bersama sepanjang hidup
akhirnya akan memperbesar kemampuan untuk saling mencintai.

b.   PELAYANAN.  Dengan berbuat baik kepada orang lain secara bersama-sama,
akan   membantu   menumbuhkan   perasaan  saling  memiliki  dan  mensyukuri
kebahagiaan yang telah dinikmati secara bersama-sama.

c.   DOA.  Hal penting dalam berdoa adalah "mengucap syukur".  Setiap usaha
yang  kita  buat  untuk  bersekutu  dengan  Tuhan  dalam  doa  bersama akan
memelihara hubungan dan jiwa pernikahan.